Jumat, 25 Maret 2016

Tugas Ilmu Budaya Dasar pertemuan 1



Oleh Tedy Sepdiansah, 1IB01 Teknik Elektro S1 (NPM : 16415830)
Dibuat untuk mata kuliah softskill Ilmu Budaya Dasar Universitas Gunadarma

Negeri Berajut Kebudayaan

"Bhinneka tunggal ika", tidak asing bukan? Bahkan bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Merupakan semboyan nasional Indonesia yang memiliki arti berbeda – beda tetapi tetap satu. Penyandang negara kepulauan terbesar di dunia ini juga turut dikenal karena keanekaragaman budaya, bahasa, flora fauna, dan masih banyak lagi.
Saya rasa memiliki beraneka ragam kebudayaan merupakan kebanggaan bagi kita semua, bangsa Indonesia. Namun dalam menjaga dan merawat kebudayaan dihadapkan pada beberapa hambatan. Hambatan itu sendiri ditimbulkan dari faktor internal dan faktor eksternal.


Gempuran Kebudayaan Asing
“Kita sudah masuk pada era globalisasi”, kalimat tersebut sudah biasa didengung – dengungkan  di berbagai tempat. Sepertinya banyak yang setuju kalau globalisasi jika dihadapi dengan cerdas dan bijak maka akan membawa kemajuan bagi diri kita, tapi apa jadinya jika belum siap dan bersikap kurang bijak dalam menghadapi era dimana segala informasi dengan mudah tersebar dan segala tempat di dunia terasa dekat? Tentu akan berdampak buruk kepada berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial dan tak luput kepada kebudayaan yang kita miliki.
Meskipun saya dihadapkan dengan kesibukan perkuliahan tapi saya tetap meluangkan sebagian waktu untuk mencari hiburan, sesekali saya menyempatkan melihat tayangan televisi. Televisi merupakan media elektronik yang cukup ampuh dalam menyebarkan berbagai informasi, bahkan tayangan televisi dapat mempengaruhi penontonnya. Apa alasannya televisi disebut media yang ampuh? Jelas, televisi merupakan media yang cukup digemari oleh berbagai usia dan televisi dapat dinikmati oleh banyak kalangan, dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Sangat mudah bagi saya untuk menemukan tayangan – tayangan yang terlalu berisikan adegan yang kurang pantas, seperti mengajarkan kekerasan, percintaan , hedonisme, dan masih banyak lagi. Menurut saya kondisi ini diperparah dengan kurangnya perhatian dari orang tua yang membiarkan anaknya melihat tayangan yang kurang pantas tanpa pengawasan dan berpendapat bahwa itu bukanlah suatu hal besar yang perlu dipermasalahkan.
Berbagai tayangan televisi dari luar negeri mudah sekali dijumpai di televisi nasional dan swasta, sebut saja tayangan asal Malaysia, India, Turki, dan Korea yang di dalamnya menampilkan banyak kebudayaan negeri asalnya. Tidak hanya sampai di tayangan televisi, gempuran kebudayaan asing juga merambah dunia musik. Dimulai dari beberapa tahun lalu sampai sekarang tentunya, saya sesekali menjumpai teman yang sedang menyanyikan lagu berbahasa entah Jepang atau Korea, saat saya tanya “itu artinya apa?” dan sebagian besar mereka menjawab “Kurang tahu artinya” miris memang. Sebenarnya bagus kita menambah wawasan mengenai kebudayaan negeri orang, tetapi jangan sampai kita terlena sampai mengabaikan kebudayaannya sendiri.



Kebudayaan dalam Pendidikan Formal
Berbicara mengenai pendidikan, kita pasti sudah mengetahui bahwa begitu pentingnya pendidikan bagi seorang individu bahkan untuk kemajuan suatu negara. Walau pada kenyataannya masih banyak anak – anak yang belum bisa merasakan bangku pendidikan hanya karena ketidakmampuan dalam hal ekonomi. Survei yang dilakukan UNICEF (http://www.unicef.org/indonesia/id/education.html) menunjukan bahwa 2,5 juta anak usia sekolah belum bisa merasakan pendidikan formal. Apakah mereka salah terlahir dalam keluarga dengan ekonomi rendah? Saya percaya pemerintah terus berusaha meningkatkan kualitas generasi mudanya sehingga suatu saat nanti di Indonesia tidak ada anak yang tidak bisa bersekolah.

Kebudayaan erat kaitannya dengan pendidikan. Karena pendidikan merupakan gerbang untuk mengenalkan kebudayaan kepada para pelajar. Namun, saya melihat pendidikan kebudayaan kurang sepenuhnya dikenalkan kepada pelajar terutama dalam pendidikan formal dikebanyakan sekolah. Entah mengapa banyak sekolah seperti berbondong – bondong mencekoki peserta didiknya dengan matematika, fisika, biologi, kimia, dan sebagainya dan seakan – akan mengabaikan pendidikan kebudayaan. Sekolah yang merupakan lembaga penting dalam sendi – sendi pendidikan seolah – olah beranggapan bahwa pendidikan kebudayaan tidaklah penting. Padahal kebudayaan yang telah diwariskan dari leluhur kita mengarahkan generasi muda kepada nilai – nilai moral. Maka wajar sekarang saya sering melihat pemberitaan mengenai “orang pintar” yang terjerat kasus korupsi.


Menggenjot sektor pariwisata
Siapa yang tidak terpesona dengan daerah yang didalamnya banyak terdapat masyarakat yang ramah dan masih memegang erat adat serta kebudayaannya? Saya rasa semua mengidamkan tempat seperti itu. Karena hakikatnya manusia itu makhluk sosial yang menginginkan berinteraksi dihangatnya masyarakat.

Di Indonesia sendiri tidak begitu sulit menemukan tempat dengan penduduknya yang masih memegang teguh adat dan kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur. Lihat saja Bali, pulau yang menyandang "Pulau Dewata" yang berarti pulau yang dipercaya dihuni oleh banyak dewa. Penduduk Bali mayoritas memeluk agama Hindu, jadi wajar atmosfir tradisi Hindu sangat kental di sana.
Dengan keramahan penduduknya, keindahan alamnya yang masih terjaga dan diiringi kekayaan akan budaya sukses membuat Bali cukup berpengaruh dalam menggerakkan roda perekonomian di Indonesia. Wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara biasa menjadikan Bali sebagai tempat favorit mengisi waktu liburan. Menurut data yang ditunjukan oleh Dinas Pariwisata Daerah Bali menunjukan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali melampaui 4 juta orang di tahun 2015 bahkan data menujukan kenaikan setiap tahunnya (http://www.disparda.baliprov.go.id/id/Statistik2)


Mari Lestarikan
Berbagai kebudayaan Indonesia sebenarnya cukup diminati oleh masyarakat dunia. Lihat saja betapa suksesnya pertunjukan – pertunjukan yang menampilkan kebudayaan kita di kancah internasional, contohnya pertunjukan angklung yang berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Records di Beijing, China pada  30 Juni 2013.
Di tangan generasi muda nasib bangsa ini ditentukan, sudah seyogya kita peduli terhadap kebudayaan yang kita miliki. Namun sayangnya saat ini kebanyakan generasi muda kurang antusias terhadap kebudayaan warisan nenek moyang kita.
Padahal di era globalisai ini sangat mudah untuk mengenalkan kebudayaan yang kita miliki ke seluruh penjuru dunia. Mudah? Iya, anak muda saat ini sudah akrab dengan yang namanya media sosial, sebut saja Twitter, Path, Instagram dan masih banyak lagi. Bahkan, bagi sebagian orang media sosial sangat penting dan tak bisa terlepaskan. Salah satu cara mengenalkan kebudayaan kita bisa lewat media sosial. Misalnya saja kita bisa memperkenalkan tari Saman asal Nanggro Aceh Darussalam dengan membuat tranding topic tentang tarian tersebut. Mungkin orang yang belum mengenal tarian tersebut akan bertanya – tanya “ Apa itu tari Ssaman?” “Dari mana asal tarian itu?”. Karena jika seorang kagum akan kebudayaan kita maka biasanya mereka akan mengenalkan kebudayaan kita kepada yang lainnya. Kita bisa lihat seringnya diadakan festival Jepang oleh komunitas yang mengagumi Jepang. Apakah Jepang membayar mereka untuk mengenalkan kebudayaan Jepang?
Dengan melestarikan kebudayaan kita bukan hanya menjaga tradisi turun temurun, namun memiliki manfaat lainnya. Seperti yang sebelumnya telah dibahas, wisatawan yang ramai berkunjung ke Bali secara tidak langsung itu bersifat positif dengan mengurangi pengangguran misalnya. Masyarakat Bali bisa memperoleh lapangan pekerjaan dari dibangunya hotel, cafe, bahkan bisa bekerja sebagai pengepang rambut dan hal itu berdampak pada ekonomi masyarakatnya semakin membaik. Jika masyarakatnya memiliki perekonomian yang baik maka tidak ada anak yang tidak bersekolah karena masalah ekonomi, semua manfaat positif tersebut seperti mata rantai yang tidak pernah putus. Jadi masihkah kita acuh terdahap kebudayaan yang kita miliki?

Tambahan :
Apakah definisi dari budaya Indonesia?
Budaya Indonesia adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Indonesia .Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut.
Budaya Daerah sendiri merupakan suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu