Oleh Tedy Sepdiansah,
1IB01 Teknik Elektro S1 (NPM : 16415830)
Dibuat untuk mata kuliah
softskill Ilmu Budaya Dasar Universitas Gunadarma
Negeri
Berajut Kebudayaan
"Bhinneka tunggal
ika", tidak asing bukan? Bahkan bagi anak yang masih duduk di bangku
sekolah dasar. Merupakan semboyan nasional Indonesia yang memiliki arti berbeda
– beda tetapi tetap satu. Penyandang negara kepulauan terbesar di dunia ini
juga turut dikenal karena keanekaragaman budaya, bahasa, flora fauna, dan masih
banyak lagi.
Saya rasa memiliki
beraneka ragam kebudayaan merupakan kebanggaan bagi kita semua, bangsa
Indonesia. Namun dalam menjaga dan merawat kebudayaan dihadapkan pada beberapa
hambatan. Hambatan itu sendiri ditimbulkan dari faktor internal dan faktor
eksternal.
Gempuran Kebudayaan Asing
“Kita sudah masuk pada
era globalisasi”, kalimat tersebut sudah biasa didengung – dengungkan di berbagai tempat. Sepertinya banyak yang
setuju kalau globalisasi jika dihadapi dengan cerdas dan bijak maka akan
membawa kemajuan bagi diri kita, tapi apa jadinya jika belum siap dan bersikap
kurang bijak dalam menghadapi era dimana segala informasi dengan mudah tersebar
dan segala tempat di dunia terasa dekat? Tentu akan berdampak buruk kepada
berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial dan tak luput kepada
kebudayaan yang kita miliki.
Meskipun saya
dihadapkan dengan kesibukan perkuliahan tapi saya tetap meluangkan sebagian
waktu untuk mencari hiburan, sesekali saya menyempatkan melihat tayangan
televisi. Televisi merupakan media elektronik yang cukup ampuh dalam
menyebarkan berbagai informasi, bahkan tayangan televisi dapat mempengaruhi
penontonnya. Apa alasannya televisi disebut media yang ampuh? Jelas, televisi
merupakan media yang cukup digemari oleh berbagai usia dan televisi dapat
dinikmati oleh banyak kalangan, dari kalangan atas sampai kalangan bawah.
Sangat mudah bagi saya untuk menemukan tayangan – tayangan yang terlalu
berisikan adegan yang kurang pantas, seperti mengajarkan kekerasan, percintaan
, hedonisme, dan masih banyak lagi. Menurut saya kondisi ini diperparah dengan
kurangnya perhatian dari orang tua yang membiarkan anaknya melihat tayangan
yang kurang pantas tanpa pengawasan dan berpendapat bahwa itu bukanlah suatu
hal besar yang perlu dipermasalahkan.
Berbagai tayangan
televisi dari luar negeri mudah sekali dijumpai di televisi nasional dan
swasta, sebut saja tayangan asal Malaysia, India, Turki, dan Korea yang di
dalamnya menampilkan banyak kebudayaan negeri asalnya. Tidak hanya sampai di
tayangan televisi, gempuran kebudayaan asing juga merambah dunia musik. Dimulai
dari beberapa tahun lalu sampai sekarang tentunya, saya sesekali menjumpai
teman yang sedang menyanyikan lagu berbahasa entah Jepang atau Korea, saat saya
tanya “itu artinya apa?” dan sebagian besar mereka menjawab “Kurang tahu
artinya” miris memang. Sebenarnya bagus kita menambah wawasan mengenai
kebudayaan negeri orang, tetapi jangan sampai kita terlena sampai mengabaikan
kebudayaannya sendiri.
Kebudayaan
dalam Pendidikan Formal
Berbicara mengenai pendidikan, kita
pasti sudah mengetahui bahwa begitu pentingnya pendidikan bagi seorang individu
bahkan untuk kemajuan suatu negara. Walau pada kenyataannya masih banyak anak –
anak yang belum bisa merasakan bangku pendidikan hanya karena ketidakmampuan
dalam hal ekonomi. Survei yang dilakukan UNICEF (http://www.unicef.org/indonesia/id/education.html) menunjukan
bahwa 2,5 juta anak usia sekolah belum bisa merasakan pendidikan formal. Apakah
mereka salah terlahir dalam keluarga dengan ekonomi rendah? Saya percaya
pemerintah terus berusaha meningkatkan kualitas generasi mudanya sehingga suatu
saat nanti di Indonesia tidak ada anak yang tidak bisa bersekolah.
Kebudayaan erat kaitannya dengan
pendidikan. Karena pendidikan merupakan gerbang untuk mengenalkan kebudayaan
kepada para pelajar. Namun, saya melihat pendidikan kebudayaan kurang
sepenuhnya dikenalkan kepada pelajar terutama dalam pendidikan formal dikebanyakan
sekolah. Entah mengapa banyak sekolah seperti berbondong – bondong mencekoki
peserta didiknya dengan matematika, fisika, biologi, kimia, dan sebagainya dan
seakan – akan mengabaikan pendidikan kebudayaan. Sekolah yang merupakan lembaga
penting dalam sendi – sendi pendidikan seolah – olah beranggapan bahwa
pendidikan kebudayaan tidaklah penting. Padahal kebudayaan yang telah
diwariskan dari leluhur kita mengarahkan generasi muda kepada nilai – nilai
moral. Maka wajar sekarang saya sering melihat pemberitaan mengenai “orang
pintar” yang terjerat kasus korupsi.
Menggenjot
sektor pariwisata
Siapa
yang tidak terpesona dengan daerah yang didalamnya banyak terdapat masyarakat
yang ramah dan masih memegang erat adat serta kebudayaannya? Saya rasa semua
mengidamkan tempat seperti itu. Karena hakikatnya manusia itu makhluk sosial
yang menginginkan berinteraksi dihangatnya masyarakat.
Di Indonesia sendiri tidak begitu
sulit menemukan tempat dengan penduduknya yang masih memegang teguh adat dan
kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur. Lihat saja Bali, pulau yang menyandang
"Pulau Dewata" yang berarti pulau yang dipercaya dihuni oleh banyak
dewa. Penduduk Bali mayoritas memeluk agama Hindu, jadi wajar atmosfir tradisi
Hindu sangat kental di sana.
Dengan keramahan penduduknya,
keindahan alamnya yang masih terjaga dan diiringi kekayaan akan budaya sukses
membuat Bali cukup berpengaruh dalam menggerakkan roda perekonomian di
Indonesia. Wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara biasa menjadikan Bali
sebagai tempat favorit mengisi waktu liburan. Menurut data yang ditunjukan oleh
Dinas Pariwisata Daerah Bali menunjukan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung
ke Bali melampaui 4 juta orang di tahun 2015 bahkan data menujukan kenaikan
setiap tahunnya (http://www.disparda.baliprov.go.id/id/Statistik2)
Mari Lestarikan
Berbagai
kebudayaan Indonesia sebenarnya cukup diminati oleh masyarakat dunia. Lihat
saja betapa suksesnya pertunjukan – pertunjukan yang menampilkan kebudayaan
kita di kancah internasional, contohnya pertunjukan angklung yang berhasil memecahkan
rekor dunia Guinness World Records di Beijing, China pada 30 Juni 2013.
Di
tangan generasi muda nasib bangsa ini ditentukan, sudah seyogya kita peduli
terhadap kebudayaan yang kita miliki. Namun sayangnya saat ini kebanyakan
generasi muda kurang antusias terhadap kebudayaan warisan nenek moyang kita.
Padahal
di era globalisai ini sangat mudah untuk mengenalkan kebudayaan yang kita
miliki ke seluruh penjuru dunia. Mudah? Iya, anak muda saat ini sudah akrab
dengan yang namanya media sosial, sebut saja Twitter, Path, Instagram dan masih
banyak lagi. Bahkan, bagi sebagian orang media sosial sangat penting dan tak
bisa terlepaskan. Salah satu cara mengenalkan kebudayaan kita bisa lewat media
sosial. Misalnya saja kita bisa memperkenalkan tari Saman asal Nanggro Aceh
Darussalam dengan membuat tranding topic tentang
tarian tersebut. Mungkin orang yang belum mengenal tarian tersebut akan
bertanya – tanya “ Apa itu tari Ssaman?” “Dari mana asal tarian itu?”. Karena
jika seorang kagum akan kebudayaan kita maka biasanya mereka akan mengenalkan
kebudayaan kita kepada yang lainnya. Kita bisa lihat seringnya diadakan
festival Jepang oleh komunitas yang mengagumi Jepang. Apakah Jepang membayar
mereka untuk mengenalkan kebudayaan Jepang?
Dengan
melestarikan kebudayaan kita bukan hanya menjaga tradisi turun temurun, namun
memiliki manfaat lainnya. Seperti yang sebelumnya telah dibahas, wisatawan yang
ramai berkunjung ke Bali secara tidak langsung itu bersifat positif dengan
mengurangi pengangguran misalnya. Masyarakat Bali bisa memperoleh lapangan
pekerjaan dari dibangunya hotel, cafe, bahkan bisa bekerja sebagai pengepang
rambut dan hal itu berdampak pada ekonomi masyarakatnya semakin membaik. Jika
masyarakatnya memiliki perekonomian yang baik maka tidak ada anak yang tidak
bersekolah karena masalah ekonomi, semua manfaat positif tersebut seperti mata
rantai yang tidak pernah putus. Jadi masihkah kita acuh terdahap kebudayaan
yang kita miliki?
Tambahan
:
Apakah
definisi dari budaya Indonesia?
Budaya Indonesia
adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Indonesia .Itu dimaksudkan
budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di
suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari
Negara tersebut.
Budaya Daerah
sendiri merupakan suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang
diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi
berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat
penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama
sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk –
penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai terlihat berkembang di
Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar