Kamis, 28 April 2016

Pergeseran Kebudayaan Indonesia



Pergeseran Kebudayaan Indonesia


                Kehidupan begitu dinamis, berbagai hal berubah – ubah seiring berjalannya waktu dari masa kemasa. Kehidupan yang dinamis berdampak kepada banyak aspek kehidupan, seperti perubahan dan pergeseran dalam pola pikir, fashion, hingga perubahan dan pergeseran terhadap kebudayaan. Sebelum jauh berbicara mengenai pergeseran kebudayaan di Indonesia, mari kita pahami bersama terlebih dahulu pengertian dari budaya itu sendiri. Para ahli memiliki pendapat masing – masing terhadap definisi dari budaya. Namun bila diperhatikan pendapat mereka memiliki kesamaan inti yaitu sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara pikir manusia. 
            Indonesia dikenal memiliki banyak kebudayaan, ini merupakan hal yang wajar mengingat negara kira ini cukup luas dan berbentuk kepulauan, tentu kehidupan masyarakat di Sabang dan di Marauke berbeda. Berlimpahnya kebudayaan yang negeri ini miliki sebetulnya merupakan hal yang perlu disyukuri karena kebudayaan merupakan aset dari suatu negara. Dan hebatnya Indonesia dapat bersatu meski banyak perbedaan “ Bhinneka Tunggal Ika”.

Berbagai faktor yang mendorong pergeseran kebudayaan
Pergeseran kebudayaan merupakan sebuah reaksi yang tentunya disebabkan oleh suatu aksi. Aksi ini lah yang merupakan pendorong terjadinya pergeseran kebudayaan. Bila diperhatikan dengan teliti faktor – faktor yang mendorong pergeseran kebudayaan dapat kita bagi menjadi 2 jenis, yaitu faktor internal atau faktor dari dalam dan faktor eksternal yang merupakan pengaruh dari luar.

Untuk faktor-faktor internal yang menyebabkan pergeseran kebudayaan misalnya kurangnya rasa memiliki terhadap kebudayaan dikalangan generasi muda. Generasi muda cendrung menganggap kuno kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur kita, misalnya dibanding belajar angklung banyak dari kita lebih memilih bermain piano dan biola yang nampak modern. Memang tidak ada salahnya jika kita menekuni hobby bermain piano ataupun biola tersebut, apalagi bisa tampil di panggung megah disaksikan oleh jutaan mata yang tentunya mengharumkan nama bangsa, namun jangan dilupakan alat musik tradisional warisan leluhur.

Untuk faktor – faktor eksternal tentu kita dapat dengan mudah apa saja yang termasuk kedalam faktor eksternal pergeseran budaya. Yang paling berdampak besar adalah gempuran budaya asing. Apakah gempuran dari Barat? Sepertinya tidak hanya dari barat tetapi negara - negara yang berada di kawasan Timur  juga turut berpartisipasi dalam pergeseran budaya bangsa ini. Kita bisa lihat di televisi tanah air banyak menyajikan tayangan yang berasal dari negeri tetangga. Secara tidak langsung dan secara perlahan dengan tayangan luar yang sedikit demi sedikit menyisipkan kebudayaan mereka agar dapat diterima. Tidak salah kita memperkaya ilmu pengetahuan tentang kebudayaan luar, namun sepatutnya kita memberikan fokus dan perhatian lebih kepada kebudayaan bangsa Indonesia.


Solusi untuk mengatasi pergeseran kebudayaan

Pergeseran kebudayaan memang sulit untuk dihindari, dan sepertinya tidak baik kalau kita cegah. Jadi kita sebagai anak – anak bangsa harus dapat dengan teliti menyaring atau memilah – milah mana yang baik dan yang buruk. Jangan sampai kita terjebak dikehidupan yang hedonisme, dan mari pertahankan nilai – nilai luhur yang telah diturunkan oleh leluhur agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter baik dan dapat memajukan bangsa ini.

Jumat, 25 Maret 2016

Tugas Ilmu Budaya Dasar pertemuan 1



Oleh Tedy Sepdiansah, 1IB01 Teknik Elektro S1 (NPM : 16415830)
Dibuat untuk mata kuliah softskill Ilmu Budaya Dasar Universitas Gunadarma

Negeri Berajut Kebudayaan

"Bhinneka tunggal ika", tidak asing bukan? Bahkan bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Merupakan semboyan nasional Indonesia yang memiliki arti berbeda – beda tetapi tetap satu. Penyandang negara kepulauan terbesar di dunia ini juga turut dikenal karena keanekaragaman budaya, bahasa, flora fauna, dan masih banyak lagi.
Saya rasa memiliki beraneka ragam kebudayaan merupakan kebanggaan bagi kita semua, bangsa Indonesia. Namun dalam menjaga dan merawat kebudayaan dihadapkan pada beberapa hambatan. Hambatan itu sendiri ditimbulkan dari faktor internal dan faktor eksternal.


Gempuran Kebudayaan Asing
“Kita sudah masuk pada era globalisasi”, kalimat tersebut sudah biasa didengung – dengungkan  di berbagai tempat. Sepertinya banyak yang setuju kalau globalisasi jika dihadapi dengan cerdas dan bijak maka akan membawa kemajuan bagi diri kita, tapi apa jadinya jika belum siap dan bersikap kurang bijak dalam menghadapi era dimana segala informasi dengan mudah tersebar dan segala tempat di dunia terasa dekat? Tentu akan berdampak buruk kepada berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial dan tak luput kepada kebudayaan yang kita miliki.
Meskipun saya dihadapkan dengan kesibukan perkuliahan tapi saya tetap meluangkan sebagian waktu untuk mencari hiburan, sesekali saya menyempatkan melihat tayangan televisi. Televisi merupakan media elektronik yang cukup ampuh dalam menyebarkan berbagai informasi, bahkan tayangan televisi dapat mempengaruhi penontonnya. Apa alasannya televisi disebut media yang ampuh? Jelas, televisi merupakan media yang cukup digemari oleh berbagai usia dan televisi dapat dinikmati oleh banyak kalangan, dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Sangat mudah bagi saya untuk menemukan tayangan – tayangan yang terlalu berisikan adegan yang kurang pantas, seperti mengajarkan kekerasan, percintaan , hedonisme, dan masih banyak lagi. Menurut saya kondisi ini diperparah dengan kurangnya perhatian dari orang tua yang membiarkan anaknya melihat tayangan yang kurang pantas tanpa pengawasan dan berpendapat bahwa itu bukanlah suatu hal besar yang perlu dipermasalahkan.
Berbagai tayangan televisi dari luar negeri mudah sekali dijumpai di televisi nasional dan swasta, sebut saja tayangan asal Malaysia, India, Turki, dan Korea yang di dalamnya menampilkan banyak kebudayaan negeri asalnya. Tidak hanya sampai di tayangan televisi, gempuran kebudayaan asing juga merambah dunia musik. Dimulai dari beberapa tahun lalu sampai sekarang tentunya, saya sesekali menjumpai teman yang sedang menyanyikan lagu berbahasa entah Jepang atau Korea, saat saya tanya “itu artinya apa?” dan sebagian besar mereka menjawab “Kurang tahu artinya” miris memang. Sebenarnya bagus kita menambah wawasan mengenai kebudayaan negeri orang, tetapi jangan sampai kita terlena sampai mengabaikan kebudayaannya sendiri.



Kebudayaan dalam Pendidikan Formal
Berbicara mengenai pendidikan, kita pasti sudah mengetahui bahwa begitu pentingnya pendidikan bagi seorang individu bahkan untuk kemajuan suatu negara. Walau pada kenyataannya masih banyak anak – anak yang belum bisa merasakan bangku pendidikan hanya karena ketidakmampuan dalam hal ekonomi. Survei yang dilakukan UNICEF (http://www.unicef.org/indonesia/id/education.html) menunjukan bahwa 2,5 juta anak usia sekolah belum bisa merasakan pendidikan formal. Apakah mereka salah terlahir dalam keluarga dengan ekonomi rendah? Saya percaya pemerintah terus berusaha meningkatkan kualitas generasi mudanya sehingga suatu saat nanti di Indonesia tidak ada anak yang tidak bisa bersekolah.

Kebudayaan erat kaitannya dengan pendidikan. Karena pendidikan merupakan gerbang untuk mengenalkan kebudayaan kepada para pelajar. Namun, saya melihat pendidikan kebudayaan kurang sepenuhnya dikenalkan kepada pelajar terutama dalam pendidikan formal dikebanyakan sekolah. Entah mengapa banyak sekolah seperti berbondong – bondong mencekoki peserta didiknya dengan matematika, fisika, biologi, kimia, dan sebagainya dan seakan – akan mengabaikan pendidikan kebudayaan. Sekolah yang merupakan lembaga penting dalam sendi – sendi pendidikan seolah – olah beranggapan bahwa pendidikan kebudayaan tidaklah penting. Padahal kebudayaan yang telah diwariskan dari leluhur kita mengarahkan generasi muda kepada nilai – nilai moral. Maka wajar sekarang saya sering melihat pemberitaan mengenai “orang pintar” yang terjerat kasus korupsi.


Menggenjot sektor pariwisata
Siapa yang tidak terpesona dengan daerah yang didalamnya banyak terdapat masyarakat yang ramah dan masih memegang erat adat serta kebudayaannya? Saya rasa semua mengidamkan tempat seperti itu. Karena hakikatnya manusia itu makhluk sosial yang menginginkan berinteraksi dihangatnya masyarakat.

Di Indonesia sendiri tidak begitu sulit menemukan tempat dengan penduduknya yang masih memegang teguh adat dan kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur. Lihat saja Bali, pulau yang menyandang "Pulau Dewata" yang berarti pulau yang dipercaya dihuni oleh banyak dewa. Penduduk Bali mayoritas memeluk agama Hindu, jadi wajar atmosfir tradisi Hindu sangat kental di sana.
Dengan keramahan penduduknya, keindahan alamnya yang masih terjaga dan diiringi kekayaan akan budaya sukses membuat Bali cukup berpengaruh dalam menggerakkan roda perekonomian di Indonesia. Wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara biasa menjadikan Bali sebagai tempat favorit mengisi waktu liburan. Menurut data yang ditunjukan oleh Dinas Pariwisata Daerah Bali menunjukan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali melampaui 4 juta orang di tahun 2015 bahkan data menujukan kenaikan setiap tahunnya (http://www.disparda.baliprov.go.id/id/Statistik2)


Mari Lestarikan
Berbagai kebudayaan Indonesia sebenarnya cukup diminati oleh masyarakat dunia. Lihat saja betapa suksesnya pertunjukan – pertunjukan yang menampilkan kebudayaan kita di kancah internasional, contohnya pertunjukan angklung yang berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Records di Beijing, China pada  30 Juni 2013.
Di tangan generasi muda nasib bangsa ini ditentukan, sudah seyogya kita peduli terhadap kebudayaan yang kita miliki. Namun sayangnya saat ini kebanyakan generasi muda kurang antusias terhadap kebudayaan warisan nenek moyang kita.
Padahal di era globalisai ini sangat mudah untuk mengenalkan kebudayaan yang kita miliki ke seluruh penjuru dunia. Mudah? Iya, anak muda saat ini sudah akrab dengan yang namanya media sosial, sebut saja Twitter, Path, Instagram dan masih banyak lagi. Bahkan, bagi sebagian orang media sosial sangat penting dan tak bisa terlepaskan. Salah satu cara mengenalkan kebudayaan kita bisa lewat media sosial. Misalnya saja kita bisa memperkenalkan tari Saman asal Nanggro Aceh Darussalam dengan membuat tranding topic tentang tarian tersebut. Mungkin orang yang belum mengenal tarian tersebut akan bertanya – tanya “ Apa itu tari Ssaman?” “Dari mana asal tarian itu?”. Karena jika seorang kagum akan kebudayaan kita maka biasanya mereka akan mengenalkan kebudayaan kita kepada yang lainnya. Kita bisa lihat seringnya diadakan festival Jepang oleh komunitas yang mengagumi Jepang. Apakah Jepang membayar mereka untuk mengenalkan kebudayaan Jepang?
Dengan melestarikan kebudayaan kita bukan hanya menjaga tradisi turun temurun, namun memiliki manfaat lainnya. Seperti yang sebelumnya telah dibahas, wisatawan yang ramai berkunjung ke Bali secara tidak langsung itu bersifat positif dengan mengurangi pengangguran misalnya. Masyarakat Bali bisa memperoleh lapangan pekerjaan dari dibangunya hotel, cafe, bahkan bisa bekerja sebagai pengepang rambut dan hal itu berdampak pada ekonomi masyarakatnya semakin membaik. Jika masyarakatnya memiliki perekonomian yang baik maka tidak ada anak yang tidak bersekolah karena masalah ekonomi, semua manfaat positif tersebut seperti mata rantai yang tidak pernah putus. Jadi masihkah kita acuh terdahap kebudayaan yang kita miliki?

Tambahan :
Apakah definisi dari budaya Indonesia?
Budaya Indonesia adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Indonesia .Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut.
Budaya Daerah sendiri merupakan suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu
           

Jumat, 22 Januari 2016

AGAMA DAN MASYARAKAT



                               

Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibutikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figure nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan. Bukti di atas sampai apada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Kemudian, pada urutannya agamayang diyakini merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat.
Membicarakan peranan agama dalam kehidupan sosial menyangkut dua hal yang sudah tentu hubungannya erat memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu pengaruh dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas social dan grup social, perseorangandan kolektivitas dan mencakup kebiasaan dan cara semua unsur asing agma diwarnainya. Yang mempunyai seperangkat arti mencakup perilaku sebagai pegangan individu (way of life) dengan kepercayaan dan taat kepada agamanya. Agama sebagai suatu system mencakup individu dan masyarakat, seperti adanya emosi keagamaan, keyakinan terhadap agamanya.
Dalam proses sosial, hubungan nilai dan tujuan masyarakat relative harus stabil dalam setiap momen. Bila terjadi perubahan dan kultural hancurnya bentuk social dan cultural lama. Masyarakat dipengaruhi oleh berbagai perubahan sosial. Setiap kelompok berbeda dalam dalam kepekaan agama dan cara merasakan titik kritisnya. Dalam kepekaan agama setiap kelompok berbeda dalam menafsirkannya, semua sesuai dengan situasi apa yang dihadapi oleh kelompok tersebut. Disamping menawarkan nilai-nilai dan solidaritas baru, juga tampil pola-pola sosial untuk mencari jalan keluar dari pengalaman yang mengecewakan anomi, menetang sumber yang nyata dan mencoba mengambil upaya pelarian yang telah disediakan oleh situasi.


1.Definisi Agama
Dengan singkat definisi agama menurut sosiologi adalah definisi yang empiris. Sosiologi tidak pernah memberikan definisi agama yang evaluative (menilai). Sosiologi angkat tangan mengenai hakikat agama, baiknya atau buruknya agama atau agama–agama yang tengah diamatinya. Dari pengamatan ini sosiologi hanya sanggup memberikan definisi deskriptif (menggambarkan apa adanya) yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami pemeluk-pemeluknya.
     Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini terlihat bahwa sesuatu dapat disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tersebut.
     Sedangkan menurut pendapat Hendro puspito, agama adalah suatu jenis sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empires yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumya.

Ruang Lingkup Agama
   Secara garis besar ruang lingkup agama mencakup :
   # Hubungan manusia dengan tuhannya
   Hubungan dengan tuhan disebut ibadah. Ibadah bertujuan untuk mendekatkan diri manusia kepada tuhannya.
   #Hubungan manusia dengan manusia
   Agama memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan dan kemasyarakatan. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran agama mengenai hubungan manusia dengan manusia atau disebut pula sebagai ajaran kemasyarakatan. Sebagai contoh setiap ajaran agama mengajarkan tolong-menolong terhadap sesama manusia.
  # Hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau lingkungannya.
  Di setiap ajaran agama diajarkan bahwa manusia selalu menjaga keharmonisan antara makluk hidup dengan lingkungan sekitar supaya manusia dapat melanjutkan kehidupannya.
  
Fungsi dan Peran Agama Dalam Masyarakat
    Dalam hal fungsi, masyarakat dan agama itu berperan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat   dipecahakan   secara   empiris   karena   adanya   keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan agama menjalankan   fungsinya   sehingga   masyarakat   merasa   sejahtera, aman, stabil, dan sebagainya. Agama dalam masyarakat bisa difungsikan sebagai berikut :
1.  Fungsi edukatif.
   Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara (perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani, dsb.
2  Fungsi penyelamatan.
   Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu “yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin.
3  Fungsi pengawasan sosial (social control)
    Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu :
   Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga masyarakat.
   Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang dianggap baik )dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.
4  Fungsi memupuk Persaudaraan.
  Kesatuan persaudaraan berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan manusia-manusia yang didirikan atas unsur kesamaan.
  Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideologi yang sama, seperti liberalism, komunisme, dan sosialisme.
  Kesatuan persaudaraan berdasarkan sistem politik yang sama. Bangsa-bangsa bergabung dalam sistem kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll.
  Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercayai bersama
5  Fungsi transformatif.
Fungsi transformatif disini diartikan dengan mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat.
  Sedangkan  menurut   Thomas   F.  O’Dea  menuliskan   enam  fungsi agama dan masyarakat yaitu:
  Sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi.
  Sarana hubungan  transendental  melalui  pemujaan dan upacara
  Ibadat.
  Penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada.
  Pengoreksi fungsi yang sudah ada.
  Pemberi identitas diri.
  Pendewasaan agama.
  
  Agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan
masyarakat, karena agama memberikan sebuah system nilai yang memiliki derivasi
pada norma-norma masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan pembenaran dalam
mengatur pola perilaku manusia, baik di level individu dan masyarakat. Agama
menjadi sebuah pedoman hidup singkatnya. Dalam memandang nilai, dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai  agama dilihat dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma  atau prinsip. Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan adanya sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme.

>  Pengaruh Agama Terhadap Kehidupan Manusia
Sebagaimana telah dijelaskan dari pemaparan diatas, jasa terbesar agama adalah mengarahkan perhatian manusia kepada masalah yang penting yang selalu menggoda manusia yaitu masalah “arti dan makna”. Manusia membutuhkan bukan saja pengaturan emosi, tetapi juga kepastian kognitif tentang perkara-perkara seperti kesusilaan, disiplin, penderitaan, kematian, nasib terakhir. Terhadap persoalan tersebut agama menunjukan kepada manusia jalan dan arah kemana manusia dapat mencari jawabannya. Dan jawaban tersebut hanya dapat diperoleh  jika manusia beserta masyarakatnya mau menerima suatu yang ditunjuk sebagai “sumber” dan “terminal terakhir” dari segala kejadian yang ada di dunia. Terminal terakhir ini berada dalam dunia supra-empiris yang tidak dapat dijangkau tenaga indrawi maupun otak manusiawi, sehingga tidak dapat dibuktikan secara rasional, malainkan harus diterima sebagai kebenaran. Agama juga telah meningkatkan kesadaran yang hidup dalam diri manusia akan kondisi eksistensinya yang berupa ketidakpastian dan ketidakmampuan untuk menjawab problem hidup manusia yang berat.
     Para ahli kebuadayaan yang telah mengadakan pengamatan mengenai aneka kebudayaan berbagai bangsa sampai pada kesimpulan, bahwa agama merupakan unsur inti yang paling mendasar dari kebudayaan manusia, baik ditinjau dari segi positif maupun negatif. Masyarakat adalah suatu fenomena sosial yang terkena arus perubahan terus-menerus yang dapat dibagi dalam dua kategori : kekuatan batin (rohani) dan kekuatan lahir (jasmani). Contoh perubahan yang disebabkan kekuatan lahir ialah perkembangan teknologi yang dibuat oleh manusia. Sedangkan contoh perubahan yang disebabkan oleh kekuatan batin adalah demokrasi, reformasi, dan agama. Dari analisis komparatif ternyata bahwa agama dan nilai-nilai keagamaan merupakan kekuatan pengubah yang terkuat dari semua kebudayaan, agama dapat menjadi inisiator ataupun promotor, tetapi juga sebagai alat penentang yang gigih sesuai dengan kedudukan agama.
  Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah(desintegrativefactor).
Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat, pengaruh yang bersifat integratif. 
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat. 
Fungsi Disintegratif Agama adalah, meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain

> Pengaruh Agama Terhadap Stratifikasi Sosial
 Didalam ajaran sosiologi kita mengenal pengertian stratifikasi sosial yang mempunyai pengertian yaitu, susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam masyarakat. Seorang pengamat menggambarkan masyarakat sebagai suatu tanda yang berdiri yang mempunyai anak tanggga-anak tangga dari bawah keatas. Stratifikasi sosial itu tidak sama antara masyarakat satu dengan yang lain karena setiap masyarakat mempunyai stratifikasi sosialnya sendiri . Jika jarak antara tangga yang satu dengan anak tangga yang ada diatasnya ditarik horizontal, maka terdapat suatu ruang. Ruang itu disebut lapisan sosial. Jadi lapisan sosial adalah keseluruhan orang yang berkedudukan lapisan sosial setingkat . Contoh pengaruh agama terhadap stratifikasi pada golongan petani, sikap mental golongan petani terbentuk oleh situasi dan kondisi dimana mereka hidup, yang antara lain adalah faktor klimatologis dan hidrologis seperti musim dingin dan musim panas, yang sejalan dengan musim kering dan musim penghujan. Golongan petani selalu bergumul dengan pemainan hukum alam (pertanian). Hukum cocok tanam kadang sulit diperhitungkan secara cermat selalu bersandar pada kedermawanan alam yang datang lambat & tidak menentu. Maka kaum petani lebih cenderung untuk mendayagunakan kekuatan-kekuatan magis(supra-empiris) guna membantu mereka dalam menentukan hari yang tepat. Semangat religius golongan petani itu terlihat dari pengadaan sejumlah pesta pertanian pada peristiwa penting, misalnya kaum petani di Indonesia mengadakan selamatan pada saat menanam benih dan waktu panen, sampai sekarang ini banyak petani di Indonesia masih mengadakan ritual tersebut.

>KELESTARIAN AGAMA DALAM MASYARAKAT
  Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, kemudian lahir pemikiran-pemikiran yang berlandaskan pada pemikiran sekuler seperti pemikiran Max Weber yang mengatakan bahwa pada masyarakat modern agama akan lenyap karena pada masyarakat modern dikuasai oleh teknologi dan birokrasi. Tetapi pemikiran tersebut itu belum terbukti dalam kurun waktu terkhir ini. Sebagai contoh yang terjadi di negara-negara komunis seperti Rusia, RRC, Vietnam yang menerapkan penghapusan agama karena tidak sesuai dengan ideologi negara tersebut, tetapi beberapa orang berhasil mempertahankan agama tersebut, bahkan umat beragama semakin meningkat. Dengan mengirasionalkan agama bahwa agama adalah sesuatu yang salah dalam pemikiran, tetapi dengan sendirinya umat beragama dapat berpikir dan mengetahui apa yang dipikirkan mengenai agama. Sehingga umat beragama dapat memahami apa arti sebuah agama dam manfaatnya.
  Karena semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang demikian dinamis, teori-teori lama kemudian mengalami penyempurnaan dan revisi. Bukan pada tempatnya membandingkan kebenaran ilmu pengetahuan dengan kebenaran yang diperoleh dari informasi agama. Pemeluk agama meyakini kebenaran agama sebagai kebenaran yang bersifat kekal, sementara kebenaran ilmu pengetahuan bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan kemampuan pola pikir manusia. Ilmu pengetahuan sendiri sebenarnya bisa menjadi bagian dari penafsiran nilai-nilai agama. Sepertia yang dikatakan David Tracy bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung dimensi religious, karena untuk dapat dipahami, dan diterima diperlukan keterlibatan diri dengan soal Ketuhanan dan agama.

Referensi :



SOAL
1.agama adalah suatu jenis sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empires yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumya merupakan pengertian agama menurut
a. Hendro puspito*                                       c. Sutomo S.M
b. Alexander Gulpin                                                d. Peter Pate

2. Istilah Agama dalam Bahasa sansekerta terdiri dari kosa kata "a" yang artinya..

     A. Selalu
     B. Pasti
     C. Tidak*
     D. Mungkin
3.Menurut Thomas F.  O’Dea  menuliskan fungsi agama dan masyarakat yang berjumlah
a. 9                                                      c. 3
b. 6*                                                    d.10

4.Masyarakat adalah suatu fenomena sosial yang terkena arus perubahan terus-menerus yang dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu

 a.kekuatan batin (rohani) dan kekuatan lahir (jasmani)*
 b. kekuatan masyarakat dan kekuatan lahir (jasmani)
 c. kekuatan batin (rohani) dan kekuatan masyarakat
 d. kekuatan batin (rohani) dan kekuatan demokrasi


5.Dimensi yang dikaitkan dengan perkiraan bahwa orang yang religius akan memiliki informasi tentang ajaran pokok keagamaan, yaitu?
a. Dimensi Keyakinan
b. Dimensi Pengalaman
c. Dimensi Konsekuensi
d. Dimensi Pengetahuan*